TOP

Daftar Obat Medis & Narkoba Penyebab Disfungsi Ereksi

Daftar nama obat medis & Narkoba penyebab disfungsi ereksi. Sebisanya, hindarilah obat-obatan ini untuk mengurangi resiko impotensi & lemah syahwat.

Daftar Obat Medis & Narkoba Penyebab Disfungsi Ereksi

Sejumlah obat medis maupun Narkoba (Narkotika dan Obat-obatan Terlarang), kuat ditengarai menjadi biang impotensi maupun lemah syahwat pada pria. Sekilas tentang hal ini —serta penyebab lainnya— telah disampaikan dalam tulisan Penyebab Disfungsi Ereksi.

Narkoba —termasuk alkohol dan nikotin— memang beresiko tinggi merusak fungsi organ seksual, dan ini bukan hal baru. Tetapi sungguh sebuah ironi bila obat-obatan medis justru memiliki efek samping sedemikian, terlebih karena tugas obat sebagai sarana penyembuh.

Menyadari sensitivitas informasi yang diberikan, sajian data berikut dikutip apa adanya, langsung dari sumber berkompeten U.S. National Library of Medicine (Perpustakaan Nasional Kedokteran Amerika Serikat), salah satu rujukan utama informasi medis sedunia.[1]

Kekurangan utama data ini adalah tak adanya informasi seberapa besar kemungkinan suatu obat menyebabkan disfungsi ereksi, kecuali untuk beberapa obat hipertensi yang sengaja diberi latar berwarna kuning cerah.

Daftar Obat Penyebab Disfungsi Ereksi

Tak semua obat-obatan penyebab disfungsi ereksi ini beredar di Indonesia, untuk memastikannya Anda dapat memeriksa sendiri ke website BPOM RI,[2] atau langsung menanyakannya pada dokter kepercayaan.

Segera temui dokter bila Anda merasa obat yang diresepkan malah menurunkan kemampuan seksual. Jangan langsung menghentikan pemakaian karena reaksi penghentian mendadak sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.

Secara umum format penulisan berupa nama obat diikuti merek dagang, misal Furosemide (Lasix), dan diurutkan sesuai abjad. Perlu diingatkan, karena data ini berasal dari luar negeri, beberapa obat mungkin memiliki merek dagang berbeda di Indonesia.

Obat-obatan berikut biasanya diresepkan untuk penderita gangguan kesehatan mental atau kondisi psikologis tertentu.

  • Amitriptyline (Elavil)
  • Amoxapine (Asendin)
  • Buspirone (Buspar)
  • Chlordiazepoxide (Librium)
  • Chlorpromazine (Cepezet 100, Thorazine)
  • Clomipramine (Anafranil)
  • Clorazepate (Tranxene)
  • Desipramine (Norpramin)
  • Diazepam (Valium)
  • Doxepin (Sinequan)
  • Fluoxetine (Prozac)
  • Fluphenazine (Prolixin)
  • Imipramine (Tofranil)
  • Isocarboxazid (Marplan)
  • Lorazepam (Ativan)
  • Meprobamate (Equanil)
  • Mesoridazine (Serentil)
  • Nortriptyline (Pamelor)
  • Oxazepam (Serax)
  • Phenelzine (Nardil)
  • Phenytoin (Dilantin)
  • Sertraline (Zoloft)
  • Thioridazine (Mellaril)
  • Thiothixene (Navane)
  • Tranylcypromine (Parnate)
  • Trifluoperazine (Stelazine)

Antihistamin umumnya digunakan untuk mengobati alergi serta meredakan gejala insomnia dan vertigo.

  • Cimetidine (Tagamet)
  • Dimenhydrinate (Dramamine)
  • Diphenhydramine (Benadryl)
  • Hydroxyzine (Vistaril)
  • Meclizine (Antivert)
  • Nizatidine (Axid)
  • Promethazine (Phenergan)
  • Ranitidine (Zantac)

Obat hipertensi dengan akhiran thiazide beresiko tinggi menyebabkan disfungsi ereksi, diikuti beta blocker. Sedangkan jenis alpha blocker memiliki resiko terendah.

  • Atenolol (Tenormin)
  • Bethanidine
  • Bumetanide (Bumex)
  • Captopril (Capoten)
  • Chlorothiazide (Diuril)
  • Chlorthalidone (Hygroton)
  • Clonidine (Catapres)
  • Enalapril (Vasotec)
  • Furosemide (Lasix)
  • Guanabenz (Wytensin)
  • Guanethidine (Ismelin)
  • Guanfacine (Tenex)
  • Haloperidol (Haldol)
  • Hydralazine (Apresoline)
  • Hydrochlorothiazide (Esidrix)
  • Labetalol (Normodyne)
  • Methyldopa (Aldomet)
  • Metoprolol (Lopressor)
  • Nifedipine (Adalat, Procardia)
  • Phenoxybenzamine (Dibenzyline)
  • Phentolamine (Regitine)
  • Prazosin (Minipress)
  • Propranolol (Inderal)
  • Reserpine (Serpasil)
  • Spironolactone (Aldactone)
  • Triamterene (Maxzide)
  • Verapamil (Calan)

  • Benztropine (Cogentin)
  • Biperiden (Akineton)
  • Bromocriptine (Parlodel)
  • Levodopa (Sinemet)
  • Procyclidine (Kemadrin)
  • Trihexyphenidyl (Artane)

  • Antiandrogens (Casodex, Flutamide, Nilutamide)
  • Busulfan (Myleran)
  • Cyclophosphamide (Cytoxan)
  • Ketoconazole
  • LHRH agonists (Lupron, Zoladex)

  • Codeine
  • Fentanyl (Innovar)
  • Hydromorphone (Dilaudid)
  • Meperidine (Demerol)
  • Methadone
  • Morphine
  • Oxycodone (Oxycontin, Percodan)

Narkoba juga dikenal sebagai obat rekreasional karena sering disalahgunakan sekadar untuk bersenang-senang semata. Dalam dunia farmasi, alkohol dan nikotin dalam rokok juga dikategorikan sebagai Narkoba (recreational drugs).

  • Alcohol
  • Amphetamines
  • Barbiturates
  • Cocaine
  • Marijuana
  • Heroin
  • Nicotine

  • Aminocaproic acid (Amicar)
  • Atropine
  • Clofibrate (Atromid-S)
  • Cyclobenzaprine (Flexeril)
  • Cyproterone
  • Digoxin (Lanoxin)
  • Disopyramide (Norpace)
  • Estrogen
  • Finasteride (Propecia, Proscar, Avodart)
  • Furazolidone (Furoxone)
  • H2 blockers (Tagamet, Zantac, Pepcid)
  • Indomethacin (Indocin)
  • Lipid-lowering agents (obat penurun kadar lipid)
  • Licorice
  • Metoclopramide (Reglan)
  • Orphenadrine (Norflex)
  • Prochlorperazine (Compazine)
  • Pseudoephedrine (Sudafed)
  • Golangan obat anti inflamasi non steroid seperti aspirin, parasetamol, ibuprofen, ketoprofen, naproksen, asam mefenamat, piroksikam, diklofenak, indometasin

Daftar nama obat-obatan penyebab disfungsi ereksi tersebut, terakhir diupdate oleh U.S. National Library of Medicine pada tanggal 21 Januari 2015.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*