TOP

Diabetes Melitus - Penyebab, Jenis, Gejala & Pengobatannya

Pertanyaan umum tentang diabetes melitus di Indonesia (FAQ). Apa saja penyebab, jenis & gejalanya? Bagaimana cara pengobatan & pencegahan diabetes?

Diabetes Melitus FAQ Indonesia

Apa itu Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah penyakit dimana kadar gula dalam darah terus-menerus tinggi secara menetap. Orang awam lebih mengenalnya dengan nama diabetes saja atau kencing manis. Diabetes dan diabetes melitus adalah sama adanya.

Penyakit diabetes terjadi karena gangguan pada hormon insulin (defisiensi insulin). Insulin dihasilkan oleh pankreas dan bertugas membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa (gula) dari dalam darah sebagai sumber energi.

Kadar gula darah akan melambung tinggi bila, (1) jumlah hormon insulin tak memadai, atau (2) jumlahnya cukup, tetapi tak bekerja sebagaimana mestinya (resistensi insulin).

Terlepas dari upaya tak kenal lelah para peneliti, penyebab pasti diabetes masih misteri, yang ada hanyalah sekumpulan hipotesa. Sejauh data terakhir yang berhasil dikumpulkan, hal-hal berikut diperkiraan jadi penyebab diabetes melitus.

  • Kurangnya aktivitas fisik, termasuk olah raga.
  • Pola makan tak seimbang atau kebiasaan makan berlebihan
  • Tekanan mental seperti stres atau depresi yang berlangsung lama.
  • Kelainan genetis.
  • Konsumsi rokok dan/atau alkohol melebihi batas.
  • Pemakaian obat-obatan, baik legal maupun ilegal, yang mengganggu fungsi pankreas.

Jenis diabetes umumnya diklasifikasikan berdasarkan tingkat defisiensi insulinnya.

  • Diabetes Melitus Tipe 1.
  • Juga disebut defisiensi insulin absolut. Artinya organ pankreas nyaris tak mampu memproduksin insulin lagi sehingga penderitanya membutuhkan asupan dari luar atau melakukan transplantasi pankreas.

    Jenis ini sering terdeteksi pada anak-anak dan remaja. Dasar inilah yang membuat para ahli memperkiraan DM tipe 1 dikarenakan kelainan genetis yang diturunkan dari orang tua sehingga kemungkinan untuk mencegahnya terbilang kecil.

  • Diabetes Melitus Tipe 2.
  • Terjadi bila produksi insulin tak memadai atau sel-sel tubuh tak cukup peka menyerap gula dari aliran darah sehingga sel dinyatakan menolak glukosa (resistensi insulin).

    Di seluruh dunia, termasuk juga Indonesia, DM tipe 2 paling banyak penderitanya. Teori terlogisnya adalah semua jenis diabetes selain tipe 1, berkaitan erat dengan gaya hidup manusia modern.

    Namun gaya hidup pula yang jadi alasan diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah serta lebih mudah dirawat dibanding tipe 1.

  • Diabetes Gestasional.
  • Berupa tingginya kadar gula darah akibat defisiensi insulin selama masa kehamilan. Wanita hamil mungkin mengalaminya pada trimester kedua atau ketiga. Gestasional beresiko memunculkan komplikasi medis bagi ibu maupun bayi dalam kandungannya.

    Resiko itu semakin tinggi pada kehamilan berikutnya. Namun hal ini bisa ditangani dengan perubahan pola makan dan perawatan insulin.

  • Prediabetes
  • Prediabetes sebenarnya bukan jenis diabetes. Ini adalah kondisi medis yang umum dialami seseorang sebelum dinyatakan positif diabetes melitus tipe 2.

    Nilai gula dalam darah terbilang tinggi, namun tak cukup tinggi untuk didiagnosa sebagai diabetes. Orang yang mengalaminya nyaris tak menunjukkan simptom (gejala) apapun. Semuanya tampak normal dan baik-baik saja.

    Bilapun ada simptom yang terlihat, wujudnya seperti gejala diabetes umumnya. Ini biasanya ditunjukkan oleh mereka yang telah memiliki gangguan penyakit lain yang sedikit banyak mempengaruhi kinerja pankreas.

Gejala DM terbagi dua, khas dan umum. Khas artinya gejala tersebut merupakan ciri khas DM, sedangkan yang umum berarti gejala belum tentu disebabkan olehnya.

Gejala Khas

  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Terus menerus merasa haus dan lapar.
  • Berat badan turun cepat tanpa melakukan apapun.
  • Rasa gatal pada alat vital.
  • Bila terluka agak lama sembuhnya.
  • Sariawan berulang kali.

Gejala Umum

  • Kesemutan.
  • Gangguan penglihatan berupa pandangan agak kabur.
  • Sering merasa lelah.
  • Gejala-gejala tersebut muncul karena tubuh berusaha mengurangi kadar gula darah dengan mengeluarkannya melalui urin. Inilah alasan mengapa diabetes juga disebut penyakit kencing manis.
Berikut beberapa faktor yang membuat seseorang beresiko tinggi atau rentan terkena diabetes melitus (faktor resiko).

  • Berusia di atas 35 tahun, terkecuali DM tipe 1 yang bisa menyerang saat masih anak-anak.
  • Obesitas, di mana Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih besar dari 25 kg/m2.
  • Kelebihan berat badan, di mana IMT lebih besar dari 23 kg/m2.
  • Ada gangguan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Memiliki kondisi medis dislipidemia (kadar lemak tinggi).
  • Riwayat diabetes di antara anggota keluarga terdekat (faktor genetis).

Diabetes mungkin akan menimbulkan komplikasi berupa peyakit lain. Adanya komplikasi cenderung mempersulit perawatannya. Beberapa implikasi medis yang mungkin ditimbulkan oleh tingginya kadar gula darah seperti,

  • Impotensi maupun lemah syahwat (disfungsi ereksi)
  • Gangguan ginjal.
  • Gangguan penglihatan.
  • Masalah kardiovaskular, misalnya sakit jantung atau penyempitan pembuluh darah.
  • Stroke

Bila Anda memiliki satu atau beberapa faktor resiko, dan juga menunjukkan tanda atau gejala diabetes melitus, bersegeralah mengunjungi ahli medis untuk menjalani pemeriksaan.

Seseorang didiagnosa terkena diabetes melitus apabila, kadar gula darah ketika puasa ≥ 126 mg/dl, dan/atau, kadar gula darah tanpa puasa ≥ 200 mg/dl.

Keterangan:
– simbol ” ≥ ” artinya lebih besar atau sama dengan.
– mg/dl = miligram per desiliter.

Tanpa bermaksud menakut-nakuti, hingga kini ilmu kedokteran modern belum menemukan obat untuk menyembuhkan diabetes melitus. Obat-obatan yang diresepkan berfungsi sebagai pereda keluhan serta pencegah komplikasi lanjutan.

Pilihan transplantasi pankreas bisa jadi opsi, terutama bagi penderita DM tipe 1. Namun sulitnya menemukan donor yang tepat serta mahalnya biaya membuat cara ini hampir tak mungkin dilakukan kebanyakan orang.

Aksi yang sebaiknya dilakukan untuk merawat diabetes dan mencegah terjadinya komplikasi dapat dibagi dua, yaitu (1) perubahan gaya hidup dan (2) perawatan medis.

Perubahan Gaya Hidup

  • Mengatur pola makan dengan asupan gizi berimbang sesuai kebutuhan, dapat dikonsultasikan bersama ahli gizi.
  • Mulailah berolahraga secara teratur.
  • Belajar berpikir positif untuk semua hal demi menghindari tekanan stres yang tak perlu.
  • Hindari merokok atau berhentilah jika Anda perokok aktif.

Perawatan Medis

  • Memeriksakan kadar gula darah secara rutin.
  • Pemakaian obat penurun gula darah (anti diabetik oral) sesuai petunjuk dokter.
  • Injeksi (penyuntikan) insulin.
  • Belajar mengenali dan menangani hipoglikemia (lihat boks di bawah).

Hipoglikemia adalah kondisi dimana kadar gula dalam darah sangat rendah yang merupakan efek samping pengobatan diabetes. Ketika terjadi dapat menyebabkan salah satu atau beberapa gangguan berikut sebagai gejala awalnya.

  • Terus berkeringat dingin, gemetar, wajah memucat, bibir kesemutan dan mulut terasa kering.
  • Rasa lelah, jantung berdebar, pusing, sakit kepala, kebingungan, gelisah dan mudah marah.

Bila gejala tersebut tak segera ditangani dengan minum atau makan makanan yang berkadar gula tinggi dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan lanjutan berupa hal-hal berikut.

  • Mulut dan lidah mati rasa.
  • Sulit berkonsentrasi dan gerakannya limbung karena tak dapat mengontrol tubuhnya.
  • Kejang-kejang yang diikuti pingsan atau hilang kesadaran
  • Mengalami koma

Jujur harus disampaikan, tak ada cara pencegahan yang benar-benar tepat. Alasannya karena saintis belum sepenuhnya memahami bagaimana mekanisme defisiensi maupun resistensi insulin tersebut bisa terjadi.

Namun sebagai manusia, kita tentunya dapat meminimalisir kemungkinan dengan memperhatikan beberapa aspek, terutama yang terkait dengan faktor resiko dan prekondisi-nya (gejala awal).

Secara umum, berikut sejumlah tindakan yang dapat dilakukan untuk menunda atau mencegah kemungkinan diabetes.

  • Hindari faktor resiko, khususnya faktor yang dapat dikontrol seperti, obesitas, kelebihan berat badan serta tekanan darah tinggi.
  • Segera periksakan diri Anda jika mengalami gejala diabetes, baik yang khas maupun umum.
  • Melakukan check-up medis rutin, terutama bagi Anda yang beresiko tinggi.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*