TOP

Ejakulasi Dini, Pengertian, Penyebab & Pengobatan

Pengertian mendasar ejakulasi dini. Apa penyebabnya? Dapatkah tuntas disembuhkan? Bagaimana cara pengobatan terbaiknya?

Ejakulasi Dini, Pengertian, Penyebab & Pengobatan

Apa itu Ejakulasi Dini?

Ejakulasi dini adalah keluarnya sperma dari tubuh (ejakulasi), yang terlalu cepat terjadi, di luar keinginan pria atau pasangannya, sebelum atau ketika melakukan penetrasi (persetubuhan).

Dalam dunia medis kondisi ini disebut ejakulasi prematur (premature ejaculation – PE). Sebutan lain yang bermakna sama adalah klimaks/orgasme prematur dan ejakulasi cepat.

Berdasarkan pengertian yang disadur dari Asosiasi Urologis Internasional (Société Internationale d’Urologie) tersebut, suatu ejakulasi harus memenuhi 3 syarat/variabel sebelum bisa dinyatakan sebagai ejakulasi dini.

Ketiga variabel tersebut yakni, (1) waktu yang singkat, (2) tak bisa dikontrol, dan (3) keberadaan partner seks.

Ejakulasi yang terlalu cepat saat bermasturbasi atau sedang berimajinasi sendiri, tak bisa disebut ejakulasi dini karena absennya variabel partner seks

Secara resmi tipe/jenis ejakulasi dini hanya diklasifikasikan berdasar kapan pertama kali hal itu terjadi. Selain klasifikasi ini, tak ada lagi pembagian tipe atau jenis PE.

  1. Lifelong (Primer).
    Dikatakan primer apabila PE terjadi sejak pertama kali seorang pria berhubungan seks dan terus berlanjut sepanjang hidupnya.
  2. Acquired (Sekunder).
    Pada awalnya durasi seks normal dan biasa saja, namun belakangan baru muncul keluhannya.

Tipe sekunder biasanya melalui beberapa tahap. Terkadang pria sanggup tahan lama, terkadang tidak. Untuk menguji benarkah Anda menderita PE, coba gunakan metode pengujian ejakulasi dini.

Secepat apakah suatu ejakulasi agar bisa dikategorikan ejakulasi dini? Ini adalah pertanyaan gampang-gampang susah, karena jika bicara “kecepatan”, kita harus mengaitkannya dengan waktu.

Jika Anda sempat menilik artikel kuesioner ejakulasi dini, tak ada variabel waktu yang ditanyakan di sana. Alasan utamanya adalah definisi “cepat” cenderung bias dan berbeda untuk tiap pasangan.

Bahkan praktisi medis dunia pun sempat saling berdebat mengenai isu ini. Sejumlah pakar menyatakan 1 – 2 menit, lainnya mengatakan 2 – 3 menit.

Untungnya, ISSM (International Society for Sexual Medicine) akhirnya menyodorkan jawaban tegas perihal batas waktu PE. Jawaban inilah yang sekarang jadi standar baku seluruh praktisi medis dalam menegakkan diagnosa ejakulasi dini.

Menurut ISSM, standar batas waktunya berbeda antara penderita PE primer dan sekunder.

Ejakulasi yang selalu atau hampir selalu terjadi, <= 1 menit (primer), atau, <= 3 menit (sekunder), terhitung sejak pertama penetrasi, adalah ejakulasi dini

Keterangan: simbol “<=" dibaca kurang dari atau sama dengan

Sebagai contoh, seseorang yang sejak pertama kali bersetubuh (primer), durasinya hanya 3 menit atau dibawahnya, maka orang itu bukanlah penderita PE.

Sebaliknya, pria yang awalnya mampu bertahan lebih dari 3 menit, namun karena sebab tertentu, durasi persetubuhannya turun hingga —misalnya— 2 menit, ada kemungkinan dia telah mengalami ejakulasi dini.

Mencari penyebab PE bisa begitu kompleks karena tak terkira banyaknya faktor yang harus diperhatikan. Bahkan hingga kini, saintis masih saling mendebat terus mendiskusikan teori penyebabnya.

Diagnosa medis umumnya hanya mampu memperkirakan, bukan memastikan penyebab ejakulasi dini, berdasarkan analisa psikis dan fisik sesuai standar keilmuannya.

Walau belum ada kesepakatan final, sejauh pengetahuan medis terkini, faktor yang mungkin jadi penyebabnya terbagi menjadi dua kelompok, fisiologis dan psikologis. Keduanya berlaku untuk PE tipe primer maupun sekunder.

Faktor Fisiologis

Fisiologis dapat diartikan segala yang berhubungan dengan fisik. Terkait dengan kondisi PE, serotonin (5-HT) diduga berperan penting di sini. Ia adalah senyawa neurotransmitter, sang “pembawa sinyal” dari otak ke seluruh anggota tubuh.

Tingginya akumulasi serotonin di otak memperlama waktu ejakulasi. Sebaliknya, kadar rendah akan memperpendek atau mempercepatnya.

Teori serotonin itu diperkirakan mendasari semua teori penyebab fisik lainnya, termasuk kelainan genetis, tingginya sensitivitas penis, adanya penyakit, efek samping pengobatan dan sebagiannya.

Hipotesa ini terbilang jawaban terbaik dan paling logis yang dapat diberikan saintis sejauh ini. Desain obat ejakulasi dini pun akhirnya menganut pemikiran ini. Tetapi harus diakui, bermain-main dengan serotonin membawa implikasi medis yang tak sedikit.

Selain itu, karena senyawa serotonin juga diproduksi dalam otak, keseimbangan serotonin diduga turut mempengaruhi faktor-faktor psikologis penyebab PE.

Faktor Psikologis

Sebagaimana disfungsi ereksi, kondisi psikologis disinyalir kuat memicu terjadinya ejakulasi dini, khususnya bagi tipe sekunder. Malah, sebelum mengemukanya hipotesa serotonin di atas, masalah kejiwaan pernah dianggap sebagai satu-satunya pemicu PE.

Faktor psikis penyebab ejakulasi dini berupa,

  • depresi temporal,
  • stres,
  • rasa bersalah,
  • kegelisahan,
  • kurangnya kepercayaan diri,
  • ekspetasi/harapan yang terlalu tinggi akan daya tahan sex,
  • dan, pengalaman penindasan seksual di masa lalu.

Ketidakpastian akan penyebab membuat semua orang masih meraba-raba apa obat yang tepat untuk menangani ejakulasi dini. Hingga kini, belum ada obat medis yang benar-benar pantas untuk diresepkan bagi penderita PE.

Memang Viagra (sildenafil) dan Levitra (vardenafil) dari kelompok PDE-5 inhibitor bisa memberikan sedikit bantuan ketika dibutuhkan, tapi menurut para peneliti, hanya sejauh itu kemampuannya.

Hampir semua obat kuat hanya menghasilkan efek penunda atau pencegah ejakulasi pada pria normal, mereka bukanlah obat sesuai untuk pengidap PE!

Urolog, Andorolog maupun Psikolog di Eropa maupun sejumlah negara Asia Pasific seperti Singapura dan India, umumnya meresepkan obat bernama dapoxetine. Merek dagang populer yang menggunakan dapoxetine antara lain Priligy dan Westoxetin.

Sayangnya obat dapoxetine hingga kini belum terdaftar resmi di POM Indonesia. Walau tak bisa dipungkiri, tak sulit menemukan Priligy secara online.

Sembari menunggu pelegalan Priligy, fluoxetine (Prozac), sejenis antidepresan serta clomipramine terbukti memiliki efek penunda ejakulasi bagi banyak penderita PE, walau ini bukan obat khusus PE.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*