TOP

Jenis Obat Ejakulasi Dini

Informasi cara mengatasi ejakulasi dini melalui opsi pengobatan medis. Apa jenis obat ejakulasi dini terbaik yang ditawarkan ilmu medis modern saat ini?

Jenis Obat Ejakulasi Dini

Perjuangan dunia medis menemukan cara mengatasi ejakulasi dini tak selalu mulus. Rancangan terapi medis yang dibangun menurut hipotesa penyebab fisik maupun psikis masih saling diperdebatkan sesama praktisi.

Saintis sebenarnya sudah memiliki beberapa obat yang terlihat menjanjikan, hanya saja berdasarkan pertimbangan keamanan pemakaian, mereka belum sepenuhnya diterima dan disepakati semua pihak.

Kita akan melihat perkembangan terakhir jenis-jenis obat ejakulasi dini, sebagai opsi terapi medis untuk mengatasi ejakulasi dini. Harapannya, obat ini dapat digunakan oleh pria penderita ejakulasi dini tanpa membedakan faktor penyebabnya.

Agar tak tersesat dalam rimba penjelasan di bawah, serta demi menyamakan perspesi, disarankan Anda baca dulu tulisan Pengertian Ejakulasi Dini.

Jenis Obat Ejakulasi Dini

Cara mengatasi ejakulasi dini melalui pengobatan medis dikelompokkan menurut jenis atau klasifikasi obatnya. Data terbaru menunjukkan ada 5 jenis obat ejakulasi dini yang terus diteliti dan dikembangkan, yaitu,[1]

  1. antidepresan trisiklik,
  2. SRRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor),
  3. PDE-5 (Phosphodiesterase Type 5) inhibitor,
  4. centrally acting opiates, dan
  5. topical desensitizing agents.

Semua jenis obat ejakulasi dini menunjukkan perbaikan daya tahan seksual yang diindikasikan oleh peningkatan waktu IELT (Intravaginal Ejaculation Latency Time) dengan besaran bervariasi.

Dari kelimanya ada dua yang memberikan hasil terbaik disertai bukti paling meyakinkan, yaitu obat SRRI dan topical desensitizing agents.

Karena hanya SRRI yang telah memiliki produk khusus untuk perawatan ejakulasi dini, akan lebih singkat dan langsung menjawab keingintahuan bersama jika pembahasan dibatasi pada obat ini saja.

SRRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)

Pada dasarnya, SRRI adalah antidepresan yang spesifik menargetkan hormon serotonin dalam unjuk kerjanya. Tugasnya utamanya adalah menjaga atau memperbaiki suasana hati (mood) seseorang untuk meredakan depresi.

Seiring diterimanya teori serotonin sebagai penyebab biologis gangguan ejakulasi dini, antidepresan SRRI seolah mendapat “tugas tambahan” selaku cara mengatasi ejakulasi dini.

Tak semua obat dalam klasifikasi SRRI bisa dialihtugaskan untuk menangani kondisi medis ini. Daftar berikut hanya mencantumkan obat yang telah dan terus diteliti untuk mengatasi ejakulasi dini disertai merek dagangnya.

Nama Obat Ijin BPOM Merek Dagang *
Escitalopram Ya Cipralex
Fluoxetine Ya Prozac, Kalxetin, Foransi, Oxipres, Nopres, Deprezac, dll.
Fluvoxamine Ya Luvox
Paroxetine Ya Seroxat
Sertraline Ya Deptral, Antipres, Zoloft, Anexin, dll.
Dapoxetine Tidak Priligy

* merek dagang obat berijin BPOM yang beredar di Indonesia, kecuali Priligy.

Dari semuanya, hanya Priligy (dapoxetine) yang mempunyai lisensi khusus sebagai obat ejakulasi dini, meski ia belum legal di Indonesia.

Obat SRRI lainnya belum resmi dilisensikan untuk merawat ejakulasi dini karena masih dalam tahap uji klinik. Seorang pasien bisa saja meminta dokter meresepkan obat legal tersebut, asalkan dia sadar sepenuhnya bahwa itu bukanlah obat resmi!

Opsi pengganti yang telah terbukti efektif adalah Prozac (fluoxetine). Bila penderita ternyata juga memiliki gangguan disfungsi ereksi, Prozac dapat dikombinasikan dengan Cialis (tadalafil).

Laporan hasil studi efek SRRI atas ejakulasi dini pertama kali dirilis dalam Journal of Clinical Psychiatry (1993). Kala itu, obat yang digunakan adalah fluoxetine.[2]

Percobaan menunjukkan efektivitas SRRI menunda ejakulasi mulai terlihat 1 hari sejak perawatan dimulai. Responnya juga terus membaik setelah pasien menjalani terapi medis selama 4 minggu.

Sejumlah studi lain pun mendukung fakta ini dan mendapati kisaran penundaan waktu ejakulasi antara 2 – 8 kali lebih lama dibanding kondisi awal.[1]

Tetapi, ganjalan utama yang belum terpecahkan ketika SRRI diresepkan sebagai obat ejakulasi dini adalah efektivitasnya belum konsisten.

Sebuah obat bisa berkhasiat untuk seorang pria, tetapi belum tentu bagi lainnya. Bahkan ketika diminum secara harian pun, konsistensinya belum terjamin.

Inkonsitensi inilah yang membuat hanya obat dengan bukti konsitensi terbaiklah yang disahkan sebagai obat ejakulasi dini sebenarnya.

Terlepas apakah digunakan sebagai cara mengatasi ejakulasi dini atau demi keperluan lain, secara umum, pengguna berkemungkinan mengalami satu atau beberapa keluhan berikut. Meski demikian, saintis menekankan, gangguan ini masih dalam batas toleransi.[3]

  • Kelelahan
  • Mual
  • Mulut kering
  • Diare
  • Ruam pada kulit
  • Berat badan naik atau turun
  • Rasa mengantuk
  • Insomnia
  • Sakit kepala
  • Banyak berkeringat
  • Agitasi
  • Menurunnya gairah seksual
  • Sulit mencapai orgasme
  • Disfungsi ereksi

Selain gangguan tersebut, SRRI sangat berbahaya bagi ibu hamil dan janinnya. Laporan lain mengungkapkan, ketika digunakan oleh remaja yang depresi, obat beresiko menimbulkan hasrat ingin bunuh diri, bahkan hingga tindakan bunuh diri.

Seriusnya kemungkinan efek samping membuat FDA masih menunda persetujuan untuk beberapa obat baru, serta mengeluarkan peringatan atas penjualan dan pemakaian obat yang terlanjur beredar.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*