TOP

Masa Subur Pria: Kapan Waktu Puncak Kesuburan Pria?

Kapankah masa subur pria itu? Adakah waktu puncaknya? Kenali periode atau momentum ketika kesuburan pria memiliki kans membuahi nan tinggi.

Masa Subur Pria: Kapan Waktu Puncak Kesuburan Pria?

Masa subur pria bukan sesuatu yang abstrak, ciri-cirinya gampang dikenali. Masa itu bermula sejak organ reproduksi laki-laki dapat memproduksi sel sperma dalam air maninya. Biasanya terjadi di awal pubertas, saat anak berusia 11 – 14 tahun.[1]

Lelaki hampir selalu siap membuahi sejak pertama kali berejakulasi hingga tetes sperma terakhir, nonstop!

Keberhasilan pembuahan dipengaruhi beberapa paramater kuantitas dan kualitas sperma. Bukan mustahil seorang kakek bercicit pun masih bisa memiliki anak lagi sepanjang memenuhi parameter itu dan —tentunya— punya pasangan tepat!

Kenyataan itu membuat kami menduga, alih-alih sekadar ingin tahu masa subur pria, informasi sesungguhnya yang dicari banyak pasangan adalah kapan waktu puncak kesuburan pria?

Penting diketahui, semua yang disampaikan di sini hanya untuk pasangan subur! Bukan untuk mereka yang steril, mandul atau diduga memiliki problem infertilitas. Apabila ragu/curiga, segera lakukan uji fertilitas ke ahli medis berkompeten!

Pasangan boleh mencurigai faktor kesuburan jika setelah setahun rutin mencoba, kehamilan tak kunjung datang jua.

Kapan Puncak Masa Subur Pria?

Secara singkat puncak masa subur pria dapat diartikan suatu periode (rentang waktu) atau momentum spesifik ketika tingkat kesuburan pria (fertilitas) sangat tinggi sehingga punya kans besar menghamili pasangannya yang juga tengah subur!

Berdasarkan pemahaman itu, kami berupaya mengidentifikasi kapan puncak masa subur pria, dus bisa jadi periode atau waktu berhubungan intim terbaik bagi pasangan yang berhasrat mendapatkan keturunan.

Sekelompok ilmuwan melakukan studi untuk mencari relevansi antara fertilitas dan bertambahnya usia. Hasil studi yang dipublikasikan dalam Reviews in Urology (2011) itu menyatakan,[2]

keberhasilan pria berusia 40 tahun ke atas menghamili pasangannya 30% lebih rendah dari pria yang berusia 30 tahun ke bawah

Studi lain berdasarkan data statistik juga membuktikan bahwa penambahan usia pria terkait erat dengan semakin lamanya waktu tunggu kehamilan serta penurunan jumlah kehamilan.[3]

Periode idealnya (kesuburan pria cukup tinggi) berada di sekitar awal masa dewasa (17 – 22 tahun) hingga usia 30 – 35 tahun, dengan puncak masa subur pria (angka tertinggi) berada di usia 25 – 29 tahun.

Pria yang berpuasa seks selama 4 – 5 hari berkemungkinan cukup tinggi membuahi wanitanya. Probabilitas keberhasilan itu terkait tingginya berbagai parameter kualitas dan kuantitas sperma setelah tidak berejakulasi dalam kurun tersebut.[4]

Sudah bukan rahasia jika ragam parameter itu merupakan basis pengukuran kesehatan sperma guna menentukan subur atau tidaknya seseorang. Lagi pula, sperma sehat adalah salah satu syarat mutlak keberhasilan pembuahan.

Memang belum ada fakta ilmiah pembukti korelasi langsung antara puasa seks dan kehamilan, namun tentunya bukan hal tabu berhenti beraktivitas seks dulu selama 4 – 5 hari (termasuk masturbasi), dan melihat bagaimana hasilnya nanti.

Pria bercelana ketat (termasuk celana dalam) atau sering berendam air hangat, berpotensi menaikkan suhu kantung testis (skrotum) dan beresiko memunculkan genital heat sress — akibat suhu skrotum melebihi ambang (normalnya 32 – 35°C).

Studi menunjukkan bercelana ketat 15 jam sehari, terus-menerus selama 6 – 12 minggu, bisa menurunkan volume sperma sebanyak 50% pada minggu ke 3 – 9. Penurunannya bahkan mencapai 80% saat memasuki minggu ke 10.[5]

Situasi ini barangkali terdengar sedikit menakutkan karena dapat secara langsung mengurangi kesuburan pria. Untungnya genital heat sress hanya mungkin terjadi ketika perlakuan terus berlanjut tanpa henti.

Artinya, berikan jeda 1 – 2 hari penuh, ganti celana ketat dengan boxer, atau bebaskan testis dari tekanan beberapa jam sehari. Kedua tindakan itu tampaknya sanggup mereduksi bahkan membalikkan efeknya.
Ada yang berpendapat suhu sejuk di pagi hari atau cuaca dingin saat musim penghujan memicu tubuh memproduksi lebih banyak sperma. Dinginnya temperatur juga diduga mempengaruhi motilitas sel-selnya.[6]

Pendapat tersebut sejalan dengan analisa data statistik yang memperlihatkan korelasi antara suhu atau cuaca sejuk dengan tingginya angka kehamilan.[7] Sepintas data ini memang terlihat sebagai kebalikan dari studi pria bercelana ketat di atas.

Logikanya, bila suhu panas merugikan fertilitas, suasana dingin nan segar cenderung berpotensi sebaliknya.

Kendati masih perlu kajian ilmiah lanjutan akan efek suhu terhadap puncak masa subur pria serta kehamilan wanita, tak ada salahnya pasutri menjajal metode ini. Berlibur ke wilayah pegunungan nan sejuk selama beberapa hari mungkin merupakan ide bagus.

Sepasang suami istri yang telah lama bersama biasanya dapat mengenali ciri ketika pasangannya didera rasa khawatir. Seks pada momen sedemikian memang sanggup melegakan beban pikiran, tapi tidak untuk mendapat keturunan.

Apapun penyebabnya, kerisauan merupakan kondisi psikologis unik yang mampu seketika menurunkan agresivitas spermatozoa. Kondisi ini bisa berujung rendahnya motilitas sperma dus probabilitas kehamilan pun turun.[8]

Studi lainnya membuktikan, pria berkepribadian neurotisisme (mudah cemas, gampang stres) lebih sulit memiliki anak dibanding mereka berkepribadian tenang dan terbuka, dan hal itu tidak terkait faktor ekonomi ataupun tingkat pendidikan.[9]

Kelelahan adrenal merujuk pada penurunan kinerja kelenjar adrenal yang membuat fisik terus merasa lelah meski sudah cukup istirahat. Ia bukan penyakit apalagi kondisi medis gawat, bahkan literatur kedokteran pun tak mengenal istilah ini.[10]

Menariknya, keluhan ini justru di alami mereka yang kebanyakan olah raga,[11] sering begadang (kurang tidur), apalagi sembari ketagihan minum kopi (lebih dari 2 gelas per hari)[12].

Kelelahan adrenal mengganggu produksi hormon cortisol, memicu ketidakseimbangan hormonal, mengakibatkan tingginya tingkat stress, dan pada akhirnya menurunkan produksi sperma.[11]

Kendati masih jauh dari kemandulan, kondisi ini terang mengurangi fertilitas.

Yoga dan meditasi adalah jurus ampuh menghalaunya. Bagi pecandu kopi, berhentilah, setidaknya hingga sang istri hamil. Atau kurangi asupannya hingga 1 gelas per hari dengan takaran gula tak lebih dari 2 sendok teh (8 gram)!
Kelebihan berat badan (obesitas) dapat mempengaruhi fertilitas secara langsung maupun tidak langsung. Berbilang sudah bukti-bukti ilmiah pendukung hipotesis itu dan tak ada pertentangan antar mereka.

Perlu diketahui obesitas yang dimaksud adalah terlalu banyak lemak (adipositas), karena overweight tak hanya gegara tumpukan lemak semata, bisa saja itu adalah otot. Tengok saja binaragawan yang angka BMI-nya (Body Mass Index) di atas rerata.

Adipositas dapat menyebabkan gangguan spermatogenesis, mengurangi tingkat sirkulasi testosteron, kurangnya gairah seks, bahkan disfungsi ereksi.[13]

Studi lain juga menunjukkan bukti bahwa obesitas pada laki-laki berdampak negatif bagi kesuburannya melalui perubahan tingkat hormon serta pengaruh langsung ke fungsi dan komposisi molekul sperma.[14]

Saintis juga menekankan, dampak negatif tersebut masih dapat di balik melalui diet sehat dan menjaga berat ideal. Sebuah berita bagus bagi banyak pria awal 40an yang cenderung membuncit perutnya akibat tumpukan lemak.
Sejumlah obat medis terbukti drastis menurunkan fertilitas pria, di antaranya golongan antidepresan (penenang), calcium channel blockers (hipertensi), alpha adrenergic blockers (hipertensi), antiepilepsi dan antiretroviral (perawatan AIDS).[15]

Pada beberapa jenis obat, perawatan jangka panjang tak hanya menganggu masa subur pria, mereka bahkan beresiko menghadirkan ketidaksuburan (infertilitas).

Daftar obat-obatannya berderet panjang lagi sulit dipahami orang awam. Cobalah berkonsultasi dengan dokter yang meresepkan obat tersebut atau langsung menemui spesialis reproduksi untuk memastikan efeknya bagi fertilitas.

Akhirnya, butuh sepasang insan untuk menari bersama! Kemungkinan hamil kan melambung tinggi jika keduanya tengah berada di puncak masa suburnya!

It’s all about the right couple at the right time!

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*