TOP

Kelainan Hasrat Seksual Hipoaktif Pria

Kelainan Hasrat Seksual Hipoaktif pada pria. Pemahaman mendasar tentang arti, gejala, penyebab dan cara menangani kondisi medis HSSD.

Kelainan Hasrat Seksual Hipoaktif Pria

Apa itu Kelainan Hasrat Seksual Hipoaktif?

Kelainan hasrat seksual hipoaktif (Hypoactive Sexual Desire Disorder – HSSD) adalah gangguan kesehatan mental berupa kurangnya hasrat untuk melakukan aktivitas seksual secara fisik bersama orang lain, dimana kondisi itu telah berlangsung cukup lama.

Juga dikenal dengan istilah Inhibited Sexual Disorder (ISD), dan lebih sering mendera kaum wanita dibanding pria. Rasionya diperkirakan mencapai dua berbanding satu.

Gejala primernya adalah kurangnya niat/keinginan untuk melakukan hubungan seks secara fisik. Pria/wanita penderitanya tak pernah berinisiatif memulai, apalagi merespon keinginan pasangannya untuk melakukan aktivitas seksual.

Selain niat, gejala sekunder yaitu kurangnya upaya mencoba serta ketiadaan fantasi seksual. Keduanya hanya pelengkap pembanding, bukan penentu penegakan diagnosa.

Pengamatan gejala terbilang tak mudah karena penderita biasanya tetap suka/mencintai pasangannya dan tak ada masalah serius dalam hubungan mereka.

Salah satu tanda awal tuk mengenali Kelainan Hasrat Seksual Hipoaktif pada pria adalah ketika ia mulai menutup diri dari pasangannya.

Secara hormonal, kelainan hasrat seksual hipoaktif merupakan akibat dari penurunan kadar hormon seks testosteron (pria) atau estrogen (wanita).

Penurunan tersebut bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikis. Sebuah kutipan dari Psychology Today gamblang menjabarkan beberapa kemungkinan penyebab sebagai basis pengidentifikasian awal.

  1. Komunikasi yang tak lancar.
  2. Jarang memiliki waktu berduaan.
  3. Kurangnya kasih sayang serta tak ada keintiman emosional antar pasangan.
  4. Depresi atau stres berlebih yang mengalihkan minat terhadap seks.
  5. Adanya penyakit atau gangguan fisik, termasuk disfungsi ereksi.
  6. Pengobatan medis atau penyalahgunaan obat-obatan,
  7. Terus-menerus merasa lelah.
  8. Trauma atas suatu pengalaman seks, atau korban pelecehan seksual.
  9. Didikan akan batas-batas seks yang terlalu ketat,

Rentang kemungkinan penyebab terbilang cukup luas dan kompleks. Demi memastikannya, seseorang diharuskan mengunjungi ahli medis untuk mendapatkan diagnosa yang lebih akurat.

HSSD memang lebih sering terjadi pada wanita, namun sebenarnya mereka lebih kuat “puasa” seks selama kebutuhan emosional terpenuhi. Tetapi bagi pria, hilangnya gairah bisa begitu menakutkan!

Pria cenderung mengaitkan gairah dengan maskulinitas dan vitalitas. Tak ada gairah artinya tak ada kekuatan, padahal seks butuh “kekuatan”.

Membayangkan kehidupan hambar tanpa seks saja sudah sanggup membuat stress. Implikasinya kian meluas jika di saat bersamaan tengah bergulat dengan penyakit fisik, sehingga membutuhkan penanganan lintas spesialis. Inilah alasan mengapa HSSD pada pria lebih sulit ditangani dari pada wanita.

Fenomena itu menguatkan pemahaman bahwa selain Andrologi dan Urologi, HSSD juga pertanda gangguan kejiwaan (Psikiatri). Karenanya, bagi pria, bahayanya jauh lebih mengancam kelangsungan hubungan ketimbang disfungsi ereksi!

Kompleksitasnya membutuhkan penanganan langsung profesional medis, terutama dari spesialis Pskiatri (Psikolog). Ini karena sampai sekarang belum ada obat khusus yang sengaja dibuat untuk menanganinya.

Walaupun demikian, upaya mengembalikan gairah bisa dilakukan dengan perawatan hormon yang sesuai (estrogen atau androgen). Obat perangsang di pasar gelap, memang memberikan efek serupa, namun beresiko tinggi dan sangat tidak dianjurkan.

Di sisi lain, kebanyakan masalah penderita HSSD justru cuma berawal dari ketidaklancaran komunikasi antar pasangan, sehingga Psikolog biasanya melakukan terapi/konseling untuk melatih pasangan melaluinya bersama-sama.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan demi memperbaiki komunikasi untuk membangun kembali gairah yang runtuh.

  • Selalu berbicara jujur dari hati ke hati.
  • Lebih sering menunjukkan perhatian dan rasa kasih sayang.
  • Menyelesaikan masalah bersama dengan tetap menghormati perasaan masing-masing.
  • Belajar mengekspresikan emosi secara positif.
  • Meluangkan waktu bersama lebih banyak.

Apabila HSSD pria lebih dikarenakan hadirnya penyakit fisik atau kondisi medis lainnya, penyembuhan penyakit disertai komunikasi yang baik adalah solusi terbaik.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*