TOP

Levitra (Vardenafil)

Informasi hasil riset & pertanyaan yang sering diajukan tentang Levitra (FAQ). Obat kuat atau obat disfungsi ereksi? Apakah Levitra tak berbahaya bagi penderita diabetes melitus?

Levitra (Vardenafil)

Pertanyaan Umum Levitra (FAQ)

Hadir mengekor Viagra dan Cialis, menjadikan Levitra produk yang (seharusnya) lebih matang racikannya. Apa kelebihan yang ditawarkannya agar pantas disejajarkan dengan pendahulunya?

Selain menyajikan jawaban atas FAQ (pertanyaan umum) masyarakat awam, turut pula disertakan poin-poin penting yang menjadi faktor pembeda obat ini. Diharapkan informasi ringkas ini pantas dijadikan referensi pengetahuan bersama.

Levitra adalah nama brand atau merek dagang terdaftar untuk obat yang disebut Vardenafil, lengkapnya Vardenafil Hydrochloride Trihydrate. Vardenafil juga digunakan pada produk bermerek Staxyn, namun masih kalah populer dibanding brand Levitra.

Bayer Indonesia memasarkannya dalam bermacam bentuk dan varian dosis. Mulai dari tablet biasa, tablet salut selaput, tablet dispersible, serbuk infus dan kaptab salut selaput.

Di Indonesia Levitra telah jadi obat disfungsi ereksi legal, dan hanya tersedia dalam varian 10 dan 20 mg. Sedang 2,5 mg dan 5 mg tidak terdaftar resmi di sini. Dokter biasanya merekomendasikan tablet salut selaput dosis 10 mg bagi pengguna awal.

Seperti golongan PDE-5 inhibitor lainnya, fungsi utama Levitra (Vardenafil) adalah mempermudah penderita impotensi serta lemah syahwat meraih kembali ereksi normalnya (obat disfungsi ereksi).

Belakangan, kesimpulan riset urolog Frank Sommer, MD, PhD. pada objek pria penderita disfungsi ereksi menunjukkan, selain membantu ereksi, ternyata obat tampaknya turut memperpanjang waktu bercinta hampir seluruh objek penelitian.

Simpulan itu membuktikan bahwa, selain membantu ereksi, Levitra juga bisa berfungsi sebagai penunda ejakulasi (tahan lama sex).

Karena kesimpulan itulah, di Indonesia produk ini banyak ditawarkan dengan embel-embel obat kuat oleh penjual online maupun offline.

Hasil test dr. Valiquette L beserta rekan-rekannya, yang dipublikasikan Mayo Clin Proc menyajikan fakta efektivitas obat ini dalam menormalkan ereksi dan mencegah ejakulasi sebelum waktunya.

Dari 600 pria penderita ED yang mengikut test, 74% di antaranya langsung mampu berhubungan seks secara sempurna bersama pasangannya, walau mereka baru sekali itu meminumnya.

Sempurna di sini berarti ereksinya cukup keras untuk melakukan penetrasi dan durasi hubungan seksnya sebagaimana rata-rata pria sehat umumnya.

Ini jauh melebihi efektivitas Viagra maupun Cialis yang terkadang perlu diminum lebih dari sekali hanya tuk sekadar mendapatkan ereksi.
Ereksi akibat reaksi obat mulai tampak sekitar 60 menit pertama, tak peduli apakah diminum saat perut kosong atau terisi. Akan tetapi, sebelum sampai ke sana (ereksi), pria harus mendapatkan rangsangan memadai, karena Levitra bukan obat perangsang.

Efek vardenafil dalam tubuh bertahan hingga 5 jam. Sepanjang waktu itu, penderita ED dapat mengulangi hubungan seksnya kapanpun diinginkan. Karena fungsi ereksi telah terjamin, yang membatasi tinggal bagaimana kekuatan fisik saja.

Durasi efeknya melebihi Viagra (4 jam), namun jauh tertinggal dibanding Cialis (36 jam).
Ketika bekerja, obat-obatan PDE-5 inhibitor selalu mengawalinya dengan mengontrol aktivitas jantung guna sedikit menurunkan tekanan darah pria.

Pada kasus tertentu, kadang tekanannya turun terlalu drastis hingga melampaui ambang batas aman. Jika ini terjadi, gejalanya dapat berupa pusing, pingsan, hingga serangan jantung atau stroke.

Akan tetapi resiko pemakaian itu hanya bisa dialami jika Levitra digunakan bersama obat-obatan nitrat, yang sering diresepkan bagi pasien Angina (nyeri dada).

Sedangkan bagi penderita ED umumnya, resiko dan efek sampingnya tak seberapa berat dan segera berlalu. Efek serupa juga ditemui pada hampir seluruh produk disfungsi ereksi.

Paling sering terjadi adalah sakit kepala, wajah memerah, hidung tersumbat, gangguan pencernaan, sakit perut, pusing, serta nyeri punggung.

Bila Anda memiliki diabetes melitus tipe 2 , dan tak bisa berereksi sempurna, Anda bisa menaruh asa nyata pada Levitra.

Hasil uji dr. Zamorano-León dan koleganya (2013) pada pasien diabetes melitus tipe 2 menyimpulkan Vardenafil cukup aman dan yang terpenting efektif meningkatkan fungsi ereksi para pria yang diuji.

Bahkan, sekitar 75% pasien diabetes melitus tipe 2 dan menderita ED berhasil melakukan penetrasi pada percobaan pertama pemakaian obat.

Sedangkan bagi diabetes melitus tipe 1 ataupun diabetes jenis lainnya, belum ditemukan data memadai untuk menjamin keamanan pemakaian.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*