TOP

9 Manfaat Tongkat Ali (Pasak Bumi) Menurut Saintis

Bagaimana sebenarnya manfaat tongkat ali? Apakah khasiat pasak bumi yang kita yakini selama ini sejalan dengan kajian saintis?

9 Manfaat Tongkat Ali (Pasak Bumi) Menurut Saintis

Tradisi mengindikasikan, konsumsi rutin tongkat ali (pasak bumi) bermanfaat merawat dan menjaga organ seksual pria tetap prima, pun selalu maksimal kinerjanya. Manfaat itu membuat pengkonsumsinya spontan siap “beraksi” kapanpun dibutuhkan.

Berkalang pihak menyebut tongkat ali (Eurycoma longifolia jack) pendongrak testosteron yang berdaya bagai pedang bermata dua. Di satu sisi merangsang gairah, sisi lainnya, tajam menebas timbunan lemak sembari membantu pembentukan otot.

Segenap bekal keyakinan tradisional itu menempatkan tongkat ali obat kuat alami tersohor seantero Asia Tenggara.

Uji Manfaat Tongkat Ali

Dari beraneka kepercayaan tradisi dan pengalaman publik (bukti empiris), terungkap 9 manfaat tongkat ali yang santer tersiar. Masing-masing akan dikonfrontasi dengan bukti ilmiah guna menguji apakah kajian saintis sejalan dengan bukti empiris?

Tercatat hanya sedikit riset efek tongkat ali pada subyek manusia. Kebanyakan kajian masih terbatas pada hewan percobaan. Untuk memperkuat pembuktian, sejumlah uji hewan percobaan turut dicantumkan di sini.

Berikut risalah hasil uji manfaat tongkat ali yang disadur dari berbilang sumber. Jikalau tak punya cukup waktu membaca paparan komprehensif ini, silahkan langsung menuju bagian kesimpulan.

Prof. Dr. Shaiful Bahari Ismail dan rekannya menguji suplemen tongkat ali pada 109 pria berusia 30 – 64 tahun (2012). Setelah menjalani terapi selama 12 minggu, peneliti berkesimpulan adanya peningkatan gairah yang signifikan.[1]

Sayangnya jika membaca laporannya dengan teliti, ternyata angka-angkanya justru terlihat belum signifikan. Pencapaian tertingginya hanya 14%! Kalau dikalkulasi lebih cermat, rerata kenaikannya hanya berkisar 8,4 – 10,8% dari seluruh subyek.

Riset manusia normal menunjukkan manfaat tongkat ali untuk merangsang gairah seksual kurang tinggi.

Di lain pihak, daya rangsangnya malah manjur bagi orang kurang bernafsu hingga mereka yang benar-benar sulit bergairah. Bukti-buktinya dapat ditemukan pada bagian produksi testosteron di bawah.

Keberadaan properti afrodisiak (perangsang) di dalamnya sudah terkonfirmasi oleh studi pada tikus lab.[2] Perbaikan gairah terjadi berkat naiknya testosteron, namun besaran kenaikannya masih kabur dan cenderung subyektif.[3]

Demi mengkompensasi kurangnya efek rangsangan pada orang normal, tak sedikit produk menambahkan bahan berproperti afrodisiak nan kuat, semisal maca (Lepidium meyenii) atau Horney Goat weed (Epimedium grandiflorum).

Review sistematis terhadap 342 laporan penelitian berupaya memetakan bagaimana pendapat saintis seputar efikasi Eurycoma longifolia jack dalam menangani fungsi ereksi (2015). Hasil penelusuran komprehensif itu menyebutkan,[4]

Berdasarkan bukti terkini, ekstrak Eurycoma longifolia jack diduga memiliki efek klinis pada fungsi ereksi. Namun perlu uji khasiat lain untuk mendukung bukti itu.

Artikel dalam Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine (2014) mewartakan hasil pengamatan Jay K. Udani berserta sejawatnya terhadap sejumlah sukarelawan pria berusia 40 hingga 65 tahun.[5]

Pengujian selama 12 minggu memperlihatkan peningkatan skala kekerasan ereksi partisipan terlibat. Namun perlu diingat semua partisipan adalah pria sehat, bukan penderita impotensi atau lemah syahwat (disfungsi ereksi).

Benar tongkat ali piawai mengeraskan ereksi pria normal, tetapi apakah manfaat serupa dapat diraih penderita disfungsi ereksi?

Untuk pertanyaan terakhir, belum ditemukan bukti langsung yang mengarah padanya. Kendatipun, fakta ini tidak menghalangi pria yang berniat menjajalnya untuk menangani lemah syahwat atau impotensi. Lagi pula, produk herba cenderung minim risiko.

Syarat obat kuat handal adalah berdaya menunda ejakulasi. Dunia mengakui, tak banyak herba yang bisa melakukannya, dan data awal periset menyiratkan, tongkat ali terindikasi memiliki manfaat penunda ejakulasi.

Studi pada pria normal berumur 40 – 62 tahun menunjukkan konsumsi pasak bumi membuat durasi seks bertambah lama. Durasinya sendiri dihitung semenjak ereksi cukup keras untuk penetrasi hingga persetubuhan berakhir.[5]

Rerata durasi seks sebelum terapi yang berkisar 7.4 menit naik menjadi 19,56 menit pada minggu ke 12.[5]

Riset pada tikus lab impoten yang dipublikasikan melalui Journal of Ethnopharmacology (2009) menunjukkan terjadinya penurunan latency ejakulasi. Artinya selisih waktu (latency) antara awal penetrasi hingga ejakulasi kian panjang.[6]

Sebelum terserang euforia, wajib dicamkan, khasiat menunda ejakulasinya belum terbukti pada pengidap ejakulasi dini, setidaknya untuk saat ini. Untungnya, cendekiawan medis berpendapat, jalan ke arah sana masih terbuka.[7]

Baca: Benarkah Anda Mencari Cara Mengatasi Ejakulasi Dini?

Bagi penderita ejakulasi dini yang yakin atau telah membuktikan sendiri tongkat ali sanggup memperlama durasi seksnya, sungguh, Anda termasuk orang yang beruntung!
Riset tahun 2010 pada 75 lelaki muda (rerata usia 32.7 tahun) dengan sejarah infertilitas idiopatik selama 5 tahunan menunjukkan kenaikan signifikan seluruh parameter sperma setelah mengkonsumsi 100 mg ekstrak herba per hari selama 9 bulan.[8]

Infertilitas idiopatik adalah ketidaksuburan yang tak bisa dijelaskan penyebabnya meski sepasang insan terbukti subur secara medis.

Laporan penelitian juga mengabarkan kisah sukses beberapa pria semasa menjalani terapi alami,[8]

Kenaikan kualitas sperma memungkinkan terjadinya 11 kehamilan pada pasangan subyek uji (14,7%).

Banyak faktor berelasi dengan kesuburan pria, dari aspek seminal (air mani & sperma) hingga hormonal. Hasil riset di atas membuktikan ekstrak tanaman Eurycoma longifolia mempengaruhi aspek seminal, dus mendukung probabilitas pembuahan.

Doktrin tradisional yang menyatakan pasak bumi bermanfaat menunjang fertilitas pria ternyata memang benar adanya.

Catatan! Satu dua riset biasanya belum dapat diakui secara global. Dibutuhkan beberapa studi lanjutan oleh pihak independen untuk memastikan akurasinya.
Testosteron pria jauh berlimpah ketimbang wanita. Produksi hormon yang mayoritas dihasilkan dalam testis ini melonjak drastis semasa puber dan mulai berkurang setelah usia 30 tahunan.[9]

Ketika produksinya berkurang, beberapa hal bakal terpengaruh, termasuk mood, berat badan, hilangnya massa otot dan tentunya libido. Singkat kata, rendahnya level testosteron berimbas turunnya performa seksual, bahkan hipoganadisme.

Pengujian selama 1 bulan terhadap pria lanjut usia pengidap hipoganadisme yang dirilis Andrologia (2011) menunjukkan kenaikan konsentrasi hormon testosteron hingga 46%.[10] Anehnya, pria normal malah tak memperlihatkan peningkatan berarti.[1]

Tongkat ali dapat meningkatkan produksi hormon testosteron penderita hipoganadisme, tetapi ia belum terbukti bagi lelaki normal.

Diduga perannya sebatas menormalkan level testosteron, bukan jadi “booster“.[11] Fakta ini sedikit menjelaskan mengapa pasak bumi kurang efektif mengatrol gairah sebagaimana pembahasan manfaat nomor 1 di atas.
Sebanyak 32 pria dan 31 wanita yang kondisi batinnya tengah tertekan (stres) menjalani eksperimen dengan mengkonsumsi suplemen tongkat ali selama 4 minggu. Perubahan kadar stres mereka diukur memakai sejumlah parameter mood (suasana hati).

Perolehan eksperimen yang termuat dalam Journal of the International Society of Sports Nutrition (2013) menampakkan penurunan angka ketegangan (-11%), kemarahan (-12%) dan kebingungan (-15%). Sedangkan parameter mood lain seperti depresi (kemurungan), semangat, serta rasa lelah, nyaris tidak berubah nilainya.[11]

Konsumi rutin suplemen Eurycoma longifolia Jack selama sebulan tampaknya berimbas positif pada suasana hati.

Ketika stres, hormon testosteron seseorang akan turun dan kortisolnya naik. Tongkat ali berfungsi menetralkan level keduanya — bekerja layaknya balancer, penyeimbang, dus berdaya membantu meredakan stres.

Pada eksperimen tersebut, tercatat naiknya kadar testosteron hingga 37%, sembari diiringi turunnya level hormon kortisol sebanyak 16%.[11]

Sekali lagi ini menjadi bukti sang herba bukan menambah produksi testosteron bagi mereka yang sedari awal tidak kekurangan hormon itu, sehingga kurang efektif jadi obat perangsang (afrodisiak).
Penurunan berat tercatat dialami pria dengan berat badan berlebih (overweight) maupun penderita obesitas. Uniknya, mereka yang beratnya normal justru tidak terpengaruh. Bagaimana ini terjadi, saintis belum memahami mekanismenya.[1]

Suatu keunikan yang positif, karena pria pengguna dengan berat normal tak usah risau jadi kurus gegara rutin mengkonsumsinya.

Manfaat menurunkan berat badan diraih berkat daya herba mereduksi kelebihan massa lemak dalam tubuh dan menaikkan lean mass (massa tubuh setelah dikurangi massa lemak) secara signifikan.[12]

Membentuk otot perlu banyak testosteron, itulah mengapa kalangan binaragawan rajin memakai anabolic steroid untuk membangun massa ototnya. Pemakaian Anabolic steroid yang tepat terbukti “gila-gilaan” menaikkan level hormon pengkonsumsinya.[13].

Karena hingga sekarang herba ini terbukti hanya menjadi penetral, bukan pendongrak testosteron (steroid),[11] patut diduga, perannya dalam membantu menaikkan massa otot tampaknya tidak signifikan.

Kiranya klaim manfaat tongkat ali sebagai pembentuk otot belum terbukti secara ilmiah.

Pabila hendak mendapatkan dada nan bidang atau perut six pack, rasanya pasak bumi bukan pilihan sesuai.

Dalam sebuah studi percontohan, 14 orang pria diminta meminum ekstrak tongkat ali sebanyak 100 mg per hari sembari melakukan latihan intensif selama 5 minggu. Peneliti ingin melihat bagaimana peningkatan performa, tenaga maupun stamina (daya tahan) para pria tersebut.[12]

7 lelaki diberi kapsul herbal, 7 lainnya menerima obat plasebo sebagai pembanding. Di akhir percobaan, pengguna kapsul herbal menunjukkan kenaikan persentase tenaga fisik 6.78%, sedangkan kelompok plasebo hanya 2,77%.

Suplementasi rutin tongkat ali mampu menambah tenaga, namun perubahan tercantum belum mencerminkan nilai sebenarnya.

Ini karena peserta turut berolah raga sepanjang percobaan berlangsung, maka ada kemungkinan membaiknya kondisi fisik didukung oleh latihan yang mereka lakukan, bukan murni karena efek suplemen semata.

Terlepas raihan studi percontohan, perbaikan stamina dan tenaga tetap ada, hanya mungkin nilainya tidak setinggi itu. Satu lagi fakta bahwa data empiris sejalan dengan bukti saintis.

Kesimpulan

Menelaah risalah sejumlah studi, herba ini tampaknya berhasil lolos dari segala uji khasiat yang dilakukan ilmuwan. Memang ada manfaat yang terkesan dilebih-lebihkan, tetapi ini masih dapat ditoleransi dan tidak mengurangi manfaat globalnya.

Manfaat Pendapat Saintis
Perangsang gairah Libido naik tetapi tidak signifikan. Kurang efektif bagi pria yang tak punya problem gairah.
Disfungsi ereksi Mengeraskan ereksi pria normal. Belum terbukti pada penderita impotensi dan lemah syahwat.
Penunda ejakulasi Manjur menunda ejakulasi, memperlama durasi seks, masih belum teruji untuk pengidap ejakulasi dini.
Kesuburan pria Memperbaiki parameter kuantitas dan kualitas sperma, menaikkan probabilitas kehamilan pasangan wanita.
Hormon testosteron Efektif menetralkan level testosteron penderita hipoganadisme atau mereka yang kekurangan hormon tersebut. Pada pria normal tidak ada perbedaan nyata.
Menangani stres Menormalkan hormon kortisol serta testosteron, membuat Mood (suasana hati) jadi lebih baik.
Berat badan Efektif mereduksi massa lemak, menurunkan berat bagi mereka yang overweight (kelebihan berat badan) maupun memiliki obesitas. Orang dengan berat normal tidak terpengaruh (tidak bertambah langsing).
Pembentukan otot Belum ada bukti langsung! Sejauh data terkini, tongkat ali tampaknya tidak memiliki kemampuan ini.
Penambah tenaga Terbukti menambah tenaga pengguna, besaran penambahannya masih ambigu. Butuh riset lanjutan.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*