TOP

Kolesterol: 7 Hal yang Wajib Anda Ketahui Tentangnya

Memahami apa dan bagaimana sosok kolesterol merupakan langkah awal mencegah dan memerangi gangguan medis yang mungkin ditimbulkannya.

Kolesterol: 7 Hal yang Wajib Anda Ketahui Tentangnya

Apa itu Kolesterol?

Kolesterol adalah zat semacam lemak —tetapi bukan lemak— yang berwujud seperti lilin lembut, dan bertugas memproduksi beberapa jenis hormon, Vitamin D, serta membantu proses sintesa zat-zat yang dibutuhkan sistem pencernaan.[1]

Kolesterol dan lemak merupakan substansi berbeda meski keduanya memiliki sifat fisik hampir serupa

Ada dua sumbernya, (1) dari dalam tubuh manusia (internal), dan (2) asupan berkolesterol (eksternal). Organ internal penghasil terbanyak ialah hati (liver). Sebagian kecil lainnya diproduksi usus kecil dan sejumlah sel di sekujur badan.

Kendati sebenarnya produksi internal sudah mencukupi, terkadang manusia perlu tambahan, misalkan saat kekurangan vitamin D. Semasa inilah dibutuhkan sumber eksternal dari makanan berkolesterol — lazimnya berasal dari sumber hewani.

Contoh asupan makanan berkolesterol tinggi namun sangat bermanfaat bagi pria dan wanita dapat ditemukan dalam tulisan Makanan Penambah Gairah.

Sifat fisik mirip lemak membuatnya tak bisa larut atau tercampur dalam darah. Untuk bersirkulasi, kolesterol bersama lemak penting lainnya harus dikemas dalam protein. Kemasannya disebut lipoprotein — singkatan lipid (substansi berlemak) dan protein.[1]

Lipoprotein adalah kurir pengangkut, yang berenang bersama aliran darah di sepanjang pembuluh tubuh.

Lemak penting dimaksud adalah trigliserida, yang diperoleh melalui asupan makanan dan minuman berlemak, serta dari sisa-sisa kalori yang tak terbakar menjadi energi.[2]

Pembagian baik-jahat ini sesungguhnya hanyalah akal-akalan. Semacam muslihat yang “terpaksa” diambil saintis untuk mempermudah mereka dan sejawatnya, ahli medis maupun pakar gizi, menjelaskan subyek rumit ini pada pasien dan orang awam.

Kurir (lipoprotein) yang “baik” tentu mengangkut item sesuai perintah, mengantarnya sampai ke sel-sel penerima pada sekujur pembuluh darah. Kelompok ini dinamakan HDL (high-density lipoproteins), tipe kolesterol baik.[1]

Saking baiknya, HDL bahkan selalu memungut ceceran “sampah” atau plak-plak penyumbat yang ditemukan dalam jalur perjalanannya dan membawanya kembali ke hati (liver), untuk dipecah dan diedarkan kembali sesuai permintaan.[3]

Sebaliknya, terkadang muatan lipoprotein tak seimbang, melulu berisikan kolesterol dan cuma sedikit lemak penting. Kelompok inilah yang dimaksud dengan LDL (low-density lipoproteins), sang kolesterol jahat.[1]

Karena ketidakseimbangan tadi, diduga — alih-alih mengantar kolesterol, LDL justru berhenti di tengah jalan, tak pernah terserap tubuh, memenuhi pembuluh arteri. LDL inilah “sampah” penyumbat yang dipungut HDL dalam perjalanan pulang.

Onggokan LDL yang menggunung tak tersapu HDL bisa menimbulkan masalah medis nan gawat. Apa saja masalah itu? Kita akan menengoknya di bawah nanti.

Dalam kasus tertentu, LDL juga memiliki varian bernama Lp(a), yang eksis karena faktor keturunan (genetis). Kendati belum utuh dipahami, Lp(a) diduga kuat menyebabkan gangguan kolesterol hadir lebih dini, [3] misalkan pada anak-anak dan remaja.

Selain LDL, “anak nakal” lainnya adalah trigliserida (lemak), yang bahkan sejak awal biasanya sudah berwujud lemak. Ia lazim terkandung dalam santapan harian berlemak seperti santan, mentega, krim, susu, keju, minyak goreng dan masih banyak lagi.

Ia pun bisa datang lewat kalori, sang sumber tenaga yang kita peroleh dari karbohidrat, glukosa (gula) atau lainnya. Jika tak banyak tenaga terpakai sementara kalorinya masih berlimpah, sisanya akan dikonversi menjadi trigliserida (lemak) oleh liver.[3]

Trigliserida lalu dikirim dalam lipoprotein, dan disimpan sebagai cadangan energi. Jika traffic pengirimannya terlampau tinggi, beberapa di antaranya mungkin macet pada arteri, dan menumpuklah mereka di sana.

Sejumlah makanan bahkan mengandung begitu banyak lemak dibanding kebutuhan harian, membuat tubuh lebih cepat jenuh terhadapnya.

Meski trigliserida bukan kolesterol, keberadaannya ikut berpengaruh terhadap perhitungan kolesterol total, demi menentukan batasan antara level aman dan bahaya. Lebih jelasnya lihat rumus perhitungan di bawah.

Tak peduli baik atau jahat, metabolisme manusia terang memerlukan ketiganya. Sebagaimana obat, pembedanya cuma takaran —berlebihan tak bagus, kekurangan berbahaya— harus pas sepadan kebutuhan.


Kadar seseorang dikatakan normal jika nilai total kolesterol dalam darah kurang dari 200 mg/dL.

Ada 3 elemen perhitungan demi mendapatkan nilai total ini, yaitu HDL, LDL dan Trigliserida. Untuk mengkalkulasi totalnya, cukup jumlahkan ketiganya dengan rumus HDL + LDL + 20% Trigliserida.

Hasil hitungan kemudian dibandingkan dengan tabel berikut untuk mengetahui apakah kadarnya normal atau tinggi.[4]

Tabel 1 – Kadar Kolesterol
Nilai Total Kadar Kolesterol
kurang dari 200 mg/dL Normal
200 – 239 mg/dL Agak tinggi
240 mg/dL dan di atasnya Tinggi

Catatan. mg/dL = miligram/desiliter

Bagi masyarakat awam, mengetahui angka total itu sudah cukup menjawab keingintahuan mereka. Tetapi, untuk paramedis profesional, nilai itu hanyalah secuil informasi dari daftar kebutuhannya.

Selain nilai total, paramedis selalu memperhatikan angka setiap elemen dalam kalkulasinya, apakah masing-masing normal atau tidak. Tabel di bawah menunjukkan berapa level normal dari ketiganya.[5]

Tabel 2 – Level Normal Tiap Elemen
Elemen Level Normal
HDL lebih dari 40 mg/dL (pria) dan lebih dari 60 mg/dL (wanita)
LDL kurang dari 100 mg/dL
Trigliserida kurang dari 150 mg/dL

Untungnya, hanya dengan bantuan alat tes sederhana, nilai ketiganya bisa kita ketahui kapanpun. Pemakaian alat mandiri pastinya lebih murah daripada bolak balik cek lab, karena dapat digunakan berulang kali.

Level kolesterol dalam darah terus berubah, naik-turun secara dinamis, bergantung sejumlah penyebab. Bukan rahasia lagi pabila makanan dan minuman hampir selalu dijadikan tersangka kuncinya.

Sebelum terlanjur memvonisnya, coba perhatikan dulu sejumlah faktor utama penyebab naiknya kolesterol, bahkan hingga mencapai status “tinggi”.[4]

  • Asupan harian.
    Lemak jenuh dalam makanan dan minuman menjadi penyebab primer kolesterol mudah naik. Memang asupan berkolesterol juga berpengaruh, tetapi studi menunjukkan efeknya masih kalah dahsyat dibanding lemak jenuh.
  • Berat badan.
    Selain beresiko memunculkan gangguan jantung, berat berlebih (karena tumpukan lemak, bukan lainnya) cenderung menaikkan kadar LDL. Menurunkan berat lalu menjaganya tetap ideal berimbas turunnya LDL dan menormalkan trigliserida.
  • Kurangnya aktivitas fisik.
    Jarang bergerak atau berolahraga sudah pasti menumpuk lemak. Tumpukan tadi menghalangi penyerapan kolesterol, berimbas pada naiknya LDL. Aktivitas fisik intensif sekurangnya 30 menit sehari menjadi awal baik mencegah kenaikannya.
  • Usia dan Gender.
    Seiring bertambahnya usia, kadar total pria dan wanita pasti meningkat. Sebelum menopause, kadarnya tak berbeda antar gender, setelahnya, wanita selalu lebih tinggi ketimbang pria.
  • Genetis (Keturunan).
    Orang dengan keluarga berkolesterol tinggi pun berkemungkinan memiliki resiko serupa. Keturunan langsung, ayah/ibu ke anak, berpotensi lebih besar dibanding tak langsung.

Teori konvensional meyakini, tumpukan LDL serta lemak berlebih menyempitkan arteri, membuatnya kaku tak fleksibel lagi, dan bisa menyumbat aliran darah. Oleh dunia medis, fenomena penyumbatan ini dinamakan aterosklerosis.[3]

Stroke, serangan jantung serta disfungsi ereksi merupakan beberapa gangguan medis yang mungkin muncul karena aterosklerosis.

Di sisi lain, sejalan dengan masifnya kuantitas kolesterol maupun lemak yang harus ditangani tubuh, terkadang malah membentuk timbunan di dalam liver. Dalam jangka panjang, timbunan tak tertangani bisa menyebabkan pembengkakan hati.

Semua ilmuwan sepakat, gangguan kolesterol nyaris tak menunjukkan gejala apapun![6] Tiba-tiba saja seseorang bisa stroke atau terkena serangan jantung, padahal beberapa jam lalu dia masih asyik berolah raga!

Ketiadaan gejala inilah yang membuatnya jadi momok menakutkan layaknya ninja, pembunuh dalam senyap. Kendatipun, ada kondisi medis moderat yang mungkin menandakan gangguan kolesterol, yaitu disfungsi ereksi.

Sudah diketahui bersama, aterosklerosis adalah salah satu penyebab lemah syahwat. Jadi, apabila seorang pria mengalaminya, patut dicurigai itu merupakan gejala ada masalah dengan kadar LDL dan trigliserida-nya.

Bersegeralah menemui dokter atau ujilah sendiri kadar darah dengan alat tes untuk mengetahui berada di posisi manakah kondisi Anda saat ini — normal, di atas normal atau tinggi?

Kolesterol bukanlah penyakit! Ia hanyalah sesuatu yang harus dijaga serta diawasi, demi menghindari datangnya penyakit sebenarnya.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*