TOP

Priligy (Dapoxetine), Obat Ejakulasi Dini Sebenarnya

Informasi seputar Priligy (dapoxetine), obat ejakulasi dini sebenarnya. Sehebat apa dapoxetine menangani ejakulasi dini? Bagaimana efek sampingnya?

Priligy (Dapoxetine), Obat Ejakulasi Dini Sebenarnya

Apa itu Priligy?

Priligy® adalah merek dagang untuk obat antidepresan bernama dapoxetine, yang digunakan untuk mengatasi gangguan ejakulasi dini, bagi pria berusia 18 hingga 64 tahun.

Dalam klasifikasi ilmu farmasi, zat aktif dapozetine hydrochloride termasuk dalam kelompok SRRI (selective serotonin reuptake inhibitor).[1]

Semula, Janssen Cilag (produsen), mengembangkannya untuk mengatasi rasa nyeri, depresi dan obesitas. Percobaan atas penderita depresi ternyata memperlihatkan fenomena penundaan ejakulasi setelah subyek menggunakan dapoxetine.

Menanggapi efek samping tak terduga tersebut, penelitian selanjutnya difokuskan pada pembuatan obat ejakulasi dini, yang harus diakui, memang lebih prospektif dari sisi bisnis.

Priligy (dapoxetine) dinyatakan sebagai obat ejakulasi dini pertama dan satu-satunya di dunia.

Pernyataan nan jumawa yang perlu diuji kebenarannya dengan menilik efektivitas atau kemampuannya, untuk kemudian dibandingkan dengan resiko efek samping yang dapat ditimbulkan.

CHPM (Committee for Medicinal Products for Human Use), salah satu departemen dalam European Medicines Agency (EMA, semacam badan pengawas obat wilayah Eropa), menguji efek Priligy terhadap penderita ejakulasi dini.[2]

Mereka menemukan adanya penundaan ejakulasi para responden, dari semula hanya 1 menit, kini sanggup bertahan mendekati 6 menit.

Angka 6 menit merupakan nilai rata-rata IELT (Intravaginal Ejaculation Latency Time) dari seluruh subjek, tanpa membedakan varian dosis yang digunakan, 30 mg atau 60 mg.

Selain mampu mengontrol timing ejakulasinya, responden pun terlihat tenang dan nyaman, serta merasa lebih puas secara seksual. Fakta ini jelas menunjukkan efektivitasnya sebagai obat ejakulasi dini.

Studi Dr. Chris G. McMahon dari Australian Centre for Sexual Health yang dimuat dalam Therapeutic Advances in Urology (2012) pun memberikan dukungan pada koleganya nun di Eropa sana.[3]

Menurutnya, profil farmakokinetik dapoxetine menunjukkan bahwa obat ini adalah pilihan yang pantas untuk mengatasi ejakulasi dini saat dibutuhkan. Selanjutnya, di bagian kesimpulan ia menyatakan,

Dapoxetine merupakan pengobatan ejakulasi dini yang efektif, aman dan dapat ditoleransi, sehingga memungkinan untuk digunakan secara massal.

Efektivitasnya pun tak terpengaruh perbedaan ras atau etnis. Hasil tes Dr. McMahon sebelumnya terhadap 1607 pria Asia menunjukkan perbaikan IELT signifikan dari 1 menit, naik menjadi sekitar 4 menit.[4]

Berbilang penelitian lain yang jadi landasan studi Dr. McMahon pun menunjukkan efektivitas dan manfaat serupa, sehingga tak ada keraguan lagi bahwa Priligy (dapoxetine) memang obat ejakulasi dini sebenarnya.
Formulasi dapoxetine berhasil dilakukan berkat terkuaknya rahasia penyebab ejakulasi dini (premature ejaculation – PE). Saintis percaya bahwa ketidakcukupan hormon serotonin membuat pria sulit menahan ejakulasinya.

Dapoxetine dalam Priligy bekerja dengan cara mencegah serotonin (neurotransmitter 5-hidroksitriptamin – 5HT) yang telah dilepaskan otak, kembali ke sel-sel saraf otak dan sumsum tulang belakang sebelum waktunya, sehingga meningkatkan jumlah serotonin di antara sel-sel saraf.[5]

Sederhananya, zat aktif obat menjaga level hormon serotonin demi mengontrol ejakulasi pria, akibatnya durasi persetubuhan pun meningkat 3 sampai 4 kali lebih lama.

Selain mengandung zat aktif dapoxetine dalam wujud garam hidroklorida, Priligy juga mengandung laktosa monohidrat, mikrokristalin selulosa, natrium kroskarmelosa, koloid silika anhidrat, magnesium stearat, hypromellose, titanium dioksida (E171), triasetin, oksida besi hitam (E172), dan oksida besi kuning (E172).[6]
Efek samping yang sangat umum terjadi pada pemakai obat dengan kemungkinan berkisar 10% atau lebih adalah,[6]

  • pusing,
  • sakit kepala, dan
  • merasa tak enak badan.

Keluhan lain dengan probabilitas yang lebih rendah (1%) adalah,

  • mulut kering,
  • mual,
  • diare,
  • insomnia (sulit tidur), serta
  • pingsan.

Selain itu, obat-obatan dari kelompok SRRI dikenal memberi efek buruk bagi fungsi seksual. Untungnya, resiko dapoxetine terkait disfungsi seksual jauh lebih rendah dibanding obat antidepresan sejenis, misalnya fluoxetine.[7]

Sejumlah efek samping dapoxetine yang berhubungan dengan fungsi seksual antara lain,[6]

  • kehilangan gairah seks (1%),
  • sulit mencapai orgasme (1%), serta
  • lebih sulit berereksi atau mempertahankan ereksi (kurang dari 1%).

Resiko disfungsi seksual ini termasuk salah satu alasan mengapa hingga kini FDA (lembaga pengawas obat USA) masih menunda izin edar Priligy di wilayah juridiksi mereka.
Sangat ditekankan, Priligy merupakan obat untuk menangani kondisi medis ejakulasi dini. Siapapun yang tidak memiliki kondisi medis dimaksud, dilarang keras menggunakannya!

Sekalipun seseorang ternyata memiliki gangguan PE, dia wajib memperhatikan dan memenuhi sejumlah syarat berikut sebelum meminum obat.

Jangan meminum Priligy jika Anda,[6]

  • memiliki alergi terhadap dapoxetine maupun salah satu bahan lainnya,
  • bermasalah dengan jantung, seperti gagal jantung atau detak jantung tak teratur,
  • sering mengalami pingsan,
  • memiliki riwayat kondisi medis mania (dengan gejala seperti gampang marah, terlalu ceria, atau tak mampu berpikir jernih), serta mengalami depresi berat,
  • sedang mengkonsumsi atau dalam pengaruh obat-obatan untuk menangani depresi, dan juga obat migrain

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*