TOP

Viagra (Sildenafil)

Pertanyaan umum seputar Viagra® (FAQ), obat disfungsi ereksi. Apa fungsinya? Bagaimana cara kerjanya? Apa efeknya pada tekanan darah? Amankah bagi penderita jantung?

Viagra (Sildenafil)

Pertanyaan Umum tentang Viagra (FAQ)

Mengenali sebuah obat memang bukan kewajiban, namun ini adalah langkah bijaksana, baik bagi mereka yang telah ataupun hendak menggunakannya. Bahkan tiap dokter pun diwajibkan menginformasikan perihal obat yang diresepkan pada pasiennya.

Saking populernya Viagra, semua orang merasa telah mengenalnya luar dalam. Benarkah demikian? Nyatanya tidak juga. Masih banyak mispersepsi serta misinterpretasi atas obat disfungsi ereksi ini yang perlu diluruskan bersama.

Kami telah merangkum sejumlah pertanyaan yang paling sering diajukan (FAQ) pria mengenai Viagra. Jawaban dikemas ringkas dalam bahasa awam agar tidak membingungkan. Harapan kami, semoga FAQ ini dapat menjawab keingintahuan Anda atas produk ini.

Viagra® tak lebih sekadar merek dagang untuk sebuah obat yang disebut sildenafil. Dalam dunia medis termasuk kelas obat-obatan PDE-5 inhibitor (phosphodiesterase tipe 5).

Secara global, ia dipasarkan dalam 3 varian, 25 mg, 50 mg dan 100 mg. Viagra memulai debut resmi atau jadi obat disfungsi ereksi legal di Indonesia tahun 2008. Pfizer Indonesia hanya mengedarkannya dalam varian 50 mg serta 100 mg.

Viagra didesain sebagai obat disfungsi ereksi (Erectile Dysfunction – ED), terutama untuk menangani impotensi dan lemah syahwat. Suatu kondisi yang sanggup membuat frustasi pria paling tangguh sekalipun.

Belakangan, studi independen pada tahun 2007 membuka tabir fungsi ekstranya. Alih-alih sekadar menangani ED, Viagra ternyata juga efektif menunda ejakulasi bagi penderita ED.

Viagra bisa menunda ejakulasi penggunanya hingga lebih tahan lama sex, tapi ia bukanlah obat ejakulasi dini!

Tak berhenti di situ saja, beberapa atlit basket profesional pun memanfaatkannya. Menurut mereka, “Viagra sanggup mendongkrak stamina fisik melampaui batas normal”, terdengar bombastis memang.

Di mata awam, sebuah obat dengan fungsi penunda ejakulasi dan pendongkrak stamina biasa disebut sebagai obat kuat.

Selain bahan aktif sildenafil sitrat sebagai material utama, tiap butir pil mengandung bahan pendukung serta pewarna makanan.

Pendukungnya adalah, mikrokristalin selulosa, anhidrat dwibasa kalsium fosfat, natrium kroskarmelosa, magnesium stearat, hypromellose, titanium dioksida, laktosa, serta triasetin.

Warna biru pil dihasilkan dari bahan pewarna FD & C Blue No. 2 aluminium lake.

Walau telah terbukti efektif pada jutaan orang, ereksi yang diharapkan mungkin tak langsung tercapai pada pemakaian pertama. Banyak dokter menganjurkan pasiennya mencoba hingga 8 kali sebelum mengganti produk.

Patut dicamkan, Viagra bukanlah obat perangsang pria. Dia tidak dirancang dan tidak dapat membangkitkan gairah seksual siapapun. Justru obat baru bekerja setelah pria terangsang secara seksual.

Rata-rata dibutuhkan waktu 30 – 60 menit hingga efek obat terlihat. Namun Anda bisa saja mencapai ereksi maksimal hanya dalam 15 menit apabila diminum ketika perut kosong.

Jika diminum setelah mengkonsumsi makanan berkadar lemak tinggi, efeknya lebih sulit keluar. Biasanya dibutuhkan lebih dari 1 jam agar bahan obat benar-benar aktif. Sekalinya aktif, Viagra tetap efektif hingga 4 – 6 jam ke depan.

Setelah masa efektif itu, residu atau sisa-sisa bahan obat masih mengendap dalam tubuh sekitar 22 jam sebelum akhirnya sistem ekskresi menuntaskan proses pembuangannya.

Kecepatan ekskresi bergantung pada kesehatan ginjal. Bila ada keluhan sakit ginjal, masa endap cenderung lebih lama. Baca Sakit Ginjal, Bolehkah Minum Obat Disfungsi Ereksi?.

Ketika otak mempersepsikan adanya rangsangan seksual, otak lalu memerintahkan sistem saraf pada penis untuk melepaskan senyawa nitric oxide (NO). NO menstimulasi sebuah enzim yang bernama cyclic guanosine monophosphate (cGMP).

Tugas cGMP melemaskan sel otot polos arteri dan trabekular agar pembuluh arteri melebar dan pembuluh vena (balik) menyempit. Pelebaran mempermudah darah memenuhi jaringan otot corpus cavernosum, dan penyempitan vena mencegahnya keluar.

Terperangkapnya darah membuat penis perlahan mengembang dan mengeras (ereksi).

Musuh cGMP adalah PDE5 (Phosphodiesterase type 5), yang bertugas mempercepat reaksi (katalis) peluruhan enzim cGMP. PDE5 seharusnya mulai bekerja setelah pria berejakulasi atau sewaktu rangsangannya terhenti.

PDE5 yang selalu aktif menyebabkan ereksi tak mungkin terjadi (impotensi). Bila ia beraksi di tengah persetubuhan, maka ereksi bisa tiba-tiba drop (lemah syahwat).

Sildenafil merupakan PDE5 Inhibitor, yang berfungsi menghambat PDE5 (inhibit) aktif sebelum waktunya demi menjamin normalnya fungsi ereksi.

Ketika bekerja, sildenafil sedikit menurunkan tekanan darah. Level penurunan telah diperhitungkan matang sehingga takkan menimbulkan masalah berarti bagi kebanyakan pria.

Namun bila Viagra dikonsumsi bersama obat-obatan berbahan nitrat, tekanan darah beresiko turun drastis dan bisa berakibat fatal.

Obat nitrat biasanya diresepkan dokter bagi penderita Angina, salah satu jenis sakit jantung. Karenanya, pastikan Anda tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan nitrat sebelum menggunakan Viagra.

Efek samping obat ini umumnya tak berat dan cepat berlalu. Keluhan yang paling sering terjadi adalah sakit kepala ringan dan wajah memerah.

Keluhan lain dengan intensitas yang lebih rendah biasanya berupa gangguan pencernaan, hidung tersumbat serta semburat warna biru pada penglihatan.

Informasi lebih lengkap mengenai seluruh efek samping serta berapa besar peluang terjadinya, dapat ditemukan pada tulisan Efek Samping Viagra (Sildenafil).

Sebagai produk medis, obat ini jelas-jelas hanya ditujukan bagi penderita atau mereka yang memiliki gejala disfungsi ereksi.

Pemakaian Viagra demi tujuan rekreasional atau hanya untuk bersenang-senang tanpa dosis terkontrol, hanya akan menimbulkan efek buruk bagi kesehatan di masa depan.

Pria yang memiliki salah satu atau beberapa kondisi medis berikut tidak disarankan memakai Viagra,

  • gangguan jantung akut,
  • belum lama terkena stroke atau serangan jantung,
  • tekanan darah rendah,
  • masalah pada liver.

Agar kian yakin, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memulai pemakaian obat.

Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

*