TOP

Uji Bahan Obat Kuat Herba Impor: Aman atau Tidak?

1. Yohimbine (Pausinystalia yohimbe)

Yohimbine adalah alkaloid tryptamine alami hasil ekstraksi bermacam kulit tanaman yang banyak tumbuh di Afrika dan Asia. Tanaman penghasil yohimbine antara lain, pohon yohimbe (Pausinystalia yohimbe) dan akar pule pandak (Rauvolfia serpentina).[1]

Tryptamine membantu memicu pelepasan hormon serotonin serta dopamine, sehingga sepintas tampaknya ia memang bisa dijadikan sebagai afrodisiak (perangsang).[1]

Walaupun jumlah alkaloid pada kulit pohon cukup tinggi, terutama pada batang pohon yohimbe yang sudah tua, namun kandungan yohimbine (alkaloid tryptamine) alami dalam ekstraknya tak sebanyak yang diperkirakan.

Apalagi hasil penelitian menemukan rendahnya level yohimbine pada produk akhir suplemen, dibandingkan dalam bahan baku aslinya (semula 7089 ppm turun menjadi < 0,1 – 489 ppm). Hal ini dicurigai akibat pengenceran ekstraksi yang berlebihan.[2]

Fakta tersebut membuat orang mempertanyakan kebenaran klaim yohimbine sanggup merangsang gairah. Mungkinkah itu cuma efek plasebo atau sugesti belaka?

Efek samping pemakaian ekstrak yohimbe dalam wujud bubuk maupun tablet, berupa gangguan seperti, tekanan darah tinggi, peningkatan denyut jantung, sakit kepala, pusing, mual, muntah, tremor dan sulit tidur.[3]

Kekhawatiran lain yang wajib dipedulikan adalah adanya efek samping psikoaktif akibat pemakaian jangka panjang, seperti, halusinasi, kecemasan, gelisah, gampang marah, kebingungan dan gugup.[1]

Jangan memakai yohimbine bersama obat hipertensi, antidepresan trisiklik, atau obat-obatan yang diperuntukkan bagi penderita gangguan kejiwaan, misalnya obat schizophrenia.[3]

Selain itu, hindari penggunaannya bila Anda,[3]

  • penderita sakit ginjal,
  • memiliki gangguan psikologis, dan
  • wanita hamil atau menyusui.

Resiko pemakaian produk yang diminum (obat oral) cukup besar, sebaliknya Procomil Spray terhitung rendah karena merupakan obat luar.

Penelitian intensif atas ekstrak yohimbe belum menemukan bukti bahwa herba ini efektif menangani disfungsi ereksi (impotensi dan lemah syahwat), sebagaimana klaim sejumlah website lokal maupun luar negeri.

2. Maca (Lepidium meyenii)

Maca merupakan jenis tumbuhan dari famili Brassicaceae dan banyak tumbuh di pegunungan Andes, Peru. Bagian yang umum digunakan sebagai obat adalah hipokotil dan akarnya. Ekstrak maca mengandung beberapa senyawa, di antaranya benzil glucosinolates dan polifenol.

Masyarakat tradisional Andes percaya hipokotil kering alami ataupun ekstrak akar memiliki fungsi perangsang, penambah tenaga, serta obat fertilitas.[1]

Memang para saintis belum sepenuhnya memahami bagaimana cara maca mempengaruhi vitalitas pria, namun sejumlah pengujian awal, baik pada hewan percobaan maupun subjek manusia, mengisyaratkan khasiat itu benar adanya.[4]

Kendati masih diperlukan studi lanjutan guna memperoleh kesepakatan ilmiah, efektivitas di atas-rata tersebut membuat maca jadi kandidat sempurna bagi obat kuat herba.

Tak ada efek beracun yang muncul bila hipokotil maca yang dikeringkan secara alami direbus matang sebelum dikonsumsi,[5] sehingga herba ini nyaris tak memiliki efek samping apapun.[6]

Hasil observasi terhadap 600 orang penduduk yang tinggal di sekitar pegunungan Andes dan rutin mengkonsumsinya menunjukkan ia sangat aman dan meningkatkan kualitas kesehatan.[5]

Bermacam keluhan yang dilaporkan pengguna obat kuat herba berbahan maca dicurigai akibat preparasi serta ekstraksi bahan yang tak sempurna.

Gangguan fisik yang dilaporkan antara lain, radang lambung (gastritis), kram usus, dan naiknya tekanan darah. Sedangkan gangguan psikologisnya berupa, kemurungan, insomnia, depresi, rasa cemas serta suasana hati yang cepat berubah.[1]

Hanya penderita gangguan kelenjar tiroid yang dilarang menggunakan produk berbahan maca. Selain itu siapapun boleh mengkonsumsinya, baik pria maupun wanita.

  • Endowmax
  • Xytomax
  • Xanogen
  • Virility EX
  • Provigro
  • Quantum Pills
  • Sinrex
  • Semenax

Data ilmiah terakhir menunjukkan Maca jelas terbukti dapat meningkatkan gairah dan stamina, namun kurang meyakinkan untuk menangani disfungsi ereksi.[6]

Komentar Anda

Surel Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.